D3 PERPUS FULL EVALUASI

Materi PKKMB - Unila 2025

Materi PKKMB Unila 2025

Hari 1: Visi Universitas, Pengembangan Karakter, dan Wawasan Kebangsaan

Pada hari pertama PKKMB, mahasiswa baru diperkenalkan dengan profil Universitas Lampung (Unila) yang berdiri pada tahun 1965 dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sebagai fakultas pertamanya. Materi juga mencakup visi dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, yang berfokus pada pendidikan berbasis teknologi. Materi utama kemudian disampaikan oleh AKBP Vicky Diulkarna’in, M.M., yang menekankan pentingnya pengembangan karakter mahasiswa sebagai agen perubahan bangsa. Ia memperkenalkan rumus SIKOKO, yang merupakan singkatan dari Silaturahmi, Komunikasi, Kolaborasi, Konsultasi, dan Do (tindakan nyata), sebagai kunci untuk pengembangan pribadi. Mahasiswa juga dibekali pemahaman untuk menghadapi berbagai tantangan yang dirangkum dalam singkatan AGHTR (Ancaman, Gangguan, Halangan, Tantangan, Rintangan) dengan sikap positif.

Materi selanjutnya membahas konsep Society 5.0, sebuah masyarakat yang memanfaatkan teknologi canggih seperti Artificial Intelligence (AI) dan Big Data untuk memecahkan masalah sosial. Mahasiswa diharapkan dapat beradaptasi dengan cara kerja ini untuk menciptakan solusi nyata. Dalam menghadapi visi Indonesia Emas 2045, generasi muda dihadapkan pada tantangan seperti kesenjangan ekonomi dan intoleransi. Oleh karena itu, pendidikan di era 5.0 tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pada pendidikan karakter, moral, etika, dan tanggung jawab sosial.

Kemudian, Prof. Dr. Eng. Suripto Dwi Yuwono, S.Si., M.T., memaparkan strategi Unila untuk menjadi kota metropolitan, dimulai dengan penguatan infrastruktur dan peningkatan pelayanan publik. Beliau juga menjelaskan roadmap pembangunan Unila hingga 2045, dimulai dari penguatan pembelajaran berbasis riset (2022-2025) hingga menjadi universitas kewirausahaan (2041-2045). Unila telah meraih akreditasi internasional dari lembaga seperti ASIIN dan FIBAA, yang sejalan dengan strategi rektor yang dirumuskan dalam akronim "BE STRONG". Materi ditutup dengan pembahasan tentang peran perguruan tinggi oleh Pariyanto, S.IP., dan kehidupan berbangsa oleh Brigjen TNI Haryantana, S.H., yang menekankan pentingnya menjaga integritas dan nasionalisme, serta mewaspadai ancaman serius seperti radikalisme, terorisme, dan darurat narkoba.

Hari 2: Peran Mahasiswa di Era Digital dan Kesehatan Kampus

Memasuki hari kedua, Prof. Dr. Sunyono, M.Si., menekankan bahwa mahasiswa di era digital tidak hanya dituntut menguasai teori, tetapi juga keterampilan teknologi dan soft skills. Mahasiswa harus beradaptasi dengan teknologi, membangun pola pikir belajar sepanjang hayat, meningkatkan literasi digital, dan berkontribusi dalam inovasi. Sesi ini juga menyoroti berbagai ajang prestasi mahasiswa seperti PIMNAS, MTQMN, dan PILMAPRES sebagai wadah untuk menunjukkan keunggulan.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Novita Tresiana, M.Si., yang menjelaskan pembentukan Satgas PPKPT (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi) sesuai Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021. Satgas ini bertugas menciptakan lingkungan kampus yang aman dan bebas dari kekerasan dengan menyediakan layanan pelaporan dan pendampingan bagi korban. Sesi terakhir membahas program P4GN (Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkotika) yang diinisiasi oleh UPA BK Unila. Poliklinik Unila menjalankan program BERSINAR (Bebas dari Narkoba) untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa melalui edukasi, screening dini, dan kampanye digital. Dengan berbagai upaya ini, mahasiswa didorong untuk menjadi agen perubahan dalam mewujudkan lingkungan kampus yang sehat dan berkarakter.

Hari 3: Pengenalan Fakultas (FISIP)

Pada hari ketiga, mahasiswa diperkenalkan dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), yang merupakan salah satu fakultas unggulan di Unila. FISIP bertekad menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan mampu bersaing di dunia global. Untuk mencapai tujuan tersebut, mahasiswa baru harus mengetahui target Kuliah Tepat Waktu (KTW) agar bisa bersaing di tingkat global. Sistem Kredit Semester (SKS) akan mulai diterapkan pada semester 3, dan mahasiswa akan didampingi oleh Dosen Pembimbing Akademik (PA) yang bertugas memberikan advokasi dan bimbingan terkait perkuliahan, UKT, jurnal, dan publikasi. FISIP juga mendukung kegiatan akademik lain seperti pertukaran mahasiswa di tingkat nasional maupun internasional, serta magang.

Selain sistem akademik, mahasiswa juga dikenalkan dengan sarana dan prasarana yang tersedia di FISIP, seperti ruang kuliah, laboratorium, perpustakaan, fasilitas olahraga, serta kafetaria dan Rusunawa. Mahasiswa juga dijelaskan mengenai hak dan kewajiban, termasuk memelihara kerukunan, menjaga lingkungan, dan menaati semua peraturan yang berlaku. Bagi mahasiswa yang melanggar, akan diberikan sanksi sesuai tingkatannya, mulai dari sanksi ringan berupa teguran, sanksi sedang berupa larangan mengikuti perkuliahan, hingga sanksi berat berupa pemberhentian sebagai mahasiswa. Selain itu, ada larangan spesifik yang tidak boleh dilakukan, seperti mengganggu hak mahasiswa lain dan mencuri fasilitas kampus.

Hari 4: Strategi Akademik dan Karier

Hari keempat berfokus pada strategi yang dapat diterapkan mahasiswa untuk menunjang keberhasilan akademik dan karier. Materi pertama membahas strategi akademik, dimulai dari pentingnya perencanaan belajar, manajemen waktu (menggunakan teknik seperti Pomodoro), dan metode belajar efektif seperti membuat rangkuman dan peta konsep. Mahasiswa juga didorong untuk memanfaatkan teknologi, fasilitas kampus, dan mencari berbagai jenis beasiswa untuk meringankan beban biaya kuliah.

Materi selanjutnya membahas efisiensi biaya dan daya saing di dunia kerja. Lulus tepat waktu merupakan salah satu cara paling efektif untuk menghemat biaya karena menghindari pembayaran UKT tambahan. Di dunia kerja, lulusan tepat waktu dinilai sebagai pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab. Selain IPK yang baik, kombinasi dengan soft skills seperti kemampuan komunikasi dan kerja tim menjadi kunci kuat untuk bersaing. Pengalaman selama kuliah, seperti berorganisasi, magang, atau terlibat dalam proyek riset, juga menjadi nilai tambah. Terakhir, mahasiswa didorong untuk membangun personal branding sejak kuliah, misalnya dengan aktif di media sosial profesional seperti LinkedIn.

0 Komentar